Pendidikan zaman Jepang dan Pendidikan Islam dalam Masa Penjajah


Pendidikan zaman Jepang dan Pendidikan Islam dalam Masa Penjajah
Kejayaan penjajah Belanda lenyap seusai Jepang berada di Indonesia. Mereka bertekuk lutut tanpa syarat terhadap Jepang. Mereka menguasai Indonesia pada tahun 1942. Tujuan Jepang ke Indonesia ialah menjadikan Indonesia sebagai sumber bahan mentah serta tenaga insan yg sangat besar artinya bagi kelangsungan perang Pasifik. Hal ini sesuai dengan impian politik ekspansinya.

Mengenai pendidikan zaman jepang disebut “Hakko Ichiu”, yakni mengundang bangsa Indonesia berhubungan dalam rangka mencapai kemakmuran bersama Asia Raya. Oleh alasannya itu pelajar setiap hari terutama pada pagi hari wajib mengucapkan sumpah setia terhadap kaisar Jepang, lalu dilatih kemiliteran. Sistem persekolahan di zaman pendudukan Jepang tak sedikit perbedaannya dibandingkan dengan penjajahan Belanda.

Jepang mengadakan perubahan di bidang pendidikan, di antaranya menghapuskan dualisme pengajaran. Dengan begitu habislah riwayat penyusunan pengajaran Belanda yg dualistis membedakan antara pengajaran barat serta pengajaran pribumi. Adapun susunan pengajaran menjadi, pertama, Sekolah Rakyat enam tahun (termasuk sekolah pertama). Kedua, sekolah menengah tiga tahun. Ketiga, sekolah menengah tinggi tiga tahun (SMA pada zaman Jepang).

Kebijakan politik Jepang tampaknya tak jauh dari skenario yg dibangun Snouck Hurgronje, yaitu memisahkan Islam dari politik praktisnya. Jepang mulai menerapkan pengamatan dengan cara ketat terhadap organisasi-organisasi Islam, terutama terhadap pendidikan Islam. Namun, paradok dengan yg pertama, rezim pendudukan Jepang juga membuka peluang bagi pemimpin-pemimpin Islam terlibat dalam organisasi-organisasi politis yg diciptakannya. Dalam memobilisasi Islam Indonesia, pemerintah Jepang menciptakan kekerabatan yg sangat dekat dengan elit muslim.[33]

Dengan semboyan Asia untuk bangsa Asia, Jepang menguasai kawasan yg berpenduduk lebih dari 400 juta jiwa, yg antara lain menghasilkan 50% produksi karet serta 70% produksi timah dunia, Indonesia yg kaya akan sumber bahan mentah artinya target yg butuh dibina serta dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan perang Jepang. Itulah sebabnya, Jepang menyerbu Indonesia, alasannya tanah air Indonesia artinya sumber bahan-bahan mentah serta tenaga insan yg kaya raya sangat besar artinya bagi kelangsungan perang Pasifik. Hal ini sesuai pula dengan impian politik ekspansinya.

Tujuan pendidikan pada zaman Jepang tidaklah hanya memenangkan peperangan. Secara konkret tujuan yg ingin dicapai Jepang artinya menyediakan tenaga cuma-cuma (rumosha) serta prajurit-prajurit yg menolong peperangan bagi kepentingan Jepang. Oleh alasannya itu, para pelajar diharuskan mengikuti latihan fisik, kemiliteran serta indoktrinasi ketat. Pada akhir zaman Jepang tampak tanda-tanda tujuan menjepangkan anak-anak Indonesia. Maka dikerahkan barisan propaganda Jepang yg populer dengan nama sedenbu, untuk menanamkan ideologi baru, untuk menghancurkan ideologi Indonesia Raya.

Untuk menyebarluaskan ideologi serta semangat Jepang, para guru digembleng dengan cara khusus oleh pemimpin-pemimpin Jepang, selama tiga bulan di Jakarta. Mereka diwajibkan meneruskan materi yg telah diterima itu terhadap teman-temannya. Untuk menanamkan semangat Jepang, murid-murid diajarkan bahasa Jepang, nyanyian-nyanyian semangat kemiliteran.

 

Ada beberapa sisi positif pada zaman penjajahan Jepang, yaitu :


Jepang memerikan pendidikan militer terhadap para pemuda Indonesia, dengan maksud memperkuat pertahanan mereka. Namun, pendidikan ini dengan cara tak pribadi menawarkan bekal terhadap para pejuang bangsa dalam bidang keprajuritan untuk mewujudkan impian merdeka.
Menghapus dualisme pendidikan penjajahan belanda serta nenggantinya dengan dengan pendidikan yg sama bagi setiap orang. Sehingga bukan hanya kelompok-kelompok tertentu yg bisa menikmati pendidikan, melainkan semua lapisan masyarakat. Hal ini telah pasti menguntungkan usaha kita.
Pemakaian bahasa Indonesia dengan cara luas diinstruksikan oleh penjajah Jepang. Bahasa Indonesia mulai digunakan di lembaga-lembaga pendidikan, di kantor-kantor, serta dalam pergaulan sehari-hari.

 

Pendidikan Islam pada masa penjajahan Jepang


Tentang sikap penjajah Jepang terhadap pendidikan Islam nyatanya lebih lunak, jadi ruang gerak pendidikan Islam lebih leluasa ketimbang pada zaman pemerintahan kolonial Belanda. Masalahnya, Jepang tak begitu menghiraukan kepentingan agama, yg penting bagi mereka artinya demi keperluan memenangkan perang, serta jikalau butuh pemuka agama lebih diberikan keleluasan dalam menyebarkan pendidikannya. Berlainan dengan kolonial Belanda, di samping bertindak sebagai kaum penjajah, tetapi ada misi lain yg tak kalah penting yg mereka emban yaitu misi agama Kristen, serta untuk ini pasti saja agama Islam yg menjadi lebih banyak didominasi penduduk pribumi sekaligus sebagai penentang pertama kehadirannya, wajib ditekan dengan beberapa cara, serta jikalau butuh dilenyapkan sama sekali.

Karena berseberangan dengan Belanda itulah Jepang berusaha luar biasa simpati ummat Islam dengan menempuh beberapa kebijaksanaan, di antaranya:

Kantor Urusan Agama yg ada pada zaaman belanda disebut Kantor Voor Islamistische Zaken yg dipimpin oleh orientalis Belanda, diubah oleh Jepang menjadi Kantor Sumubi yg dipimpin oleh ulama Islam sendiri yaitu KH. Hasyim Asy’ari, serta di daerah-daerah juga disebut Sumuka.
Pondok Pesantren yg besar-besar sering mendapat kunjungan serta bantuan dari pembesar-pembesar Jepang.
Sekolah Negeri diberi pelajaran budi pekerti yg isinya identik dengan aliran agama.
Disamping itu pemerintah Jepang mengizinkan pembentukan barisan Hizbullah untuk menawarkan latihan dasar kemiliteran bagi pemuda Islam. Barisan ini dipimpin oleh KH. Zainal Arifin.
Pemerintah Jepang mengizinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yg dipimpin oleh KH. Wahid Hasyim, Kahar Muzakar, serta Bung Hatta.
Para ulama bekerja sama dengan pemimpin-pemimpin nasionalis diizinkan membentuk barisan Pembela Tanah Air (Peta).
Umat Islam diizinkan meneruskan organisasi persatuan yg disebut Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yg bersifat kemasyarakatan.

Pada masa pendudukan Jepang, ada satu faktor istimewa dalam pendidikan sebagaimana telah dikemukakan, yaitu sekolah-sekolah telah diseragamkan serta dinegerikan meskipun sekolah-sekolah swasta lain, semacam Muhammadiyah, Taman Siswa serta lain-lain diizinkan semakin berkembang dengan pengaturan serta diselenggarakan oleh pendudukan Jepang.

Sementara itu terutama pada awal-awalnya, madrasah dibangun dengan gencar-gencarnya selama ada angin segar yg diberikan oleh Jepang. Walaupun lebih bersifat politis belaka, peluang ini tak disia-siakan begitu saja serta umat Islam Indonesia memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Ini tampak di Sumatera dengan berdirinya madrasah Awaliyahnya, yg diilhami oleh Majelis Islam Tinggi.
Hampir seluruh pelosok pedesaan tersedia madrasah Awaliyah yg dikunjungi tak sedikit anak-anak laki-laki serta perempuan. Madrasah Awaliyah ini diadakan pada sore hari dengan waktu tak lebih satu setengah jam. Materi yg diajarkan ialah menyimak Alquran, ibadah, adab serta keimanan sebagai pelatihan pelajaran agama yg dilakukan di sekolah rakyat pagi hari.

Oleh alasannya itu, meskipun dunia pendidikan dengan cara umum terbengkalai, alasannya murid-muridnya setiap harinya hanya disuruh gerak badan, baris berbaris, bekerja bakti (romusha), bernyanyi serta sebagainya, madrasah-madrasah yg berada di dalam lingkungan pondok pesantren leluasa dari pengamatan pribadi pemerintah pendudukan Jepang. Pendidikan dalam pondok pesantren bisa berlangsung dengan wajar.
Kebijakan pendidikan pada masa penjajahan Belanda bersifat weternisasi serta kristenisasi. Tujuan pendidikan pada masa itu hanya untuk melahirkan pegawai-pegawai yg diinginkan menolong pemerintahan Belanda. Perkembangan pendidikan Islam pada masa ini berkembang dengan pesat. Pendidikan Islam mencoba memadukan antara pendidikan modern Belanda dengan pendidikan tradisional jadi melahirkan madrasah-madarasah berkelas yg tak hanya menawarkan pengetahuan agama saja akan tetapi juga menawarkan pengetahuan umum.
Berbeda dengan Belanda, imperiaslismenya terhadap negara jajahan artinya 3G (ekonomi, politik serta agama), imperialisme Jepang justru berfungsi demi kepentingan perang antara Jepang dengan sekutu. Berbagai upaya dilakukan untuk memperkuat kedudukan Jepang, mulai dari tutorial yg halus hingga yg paling kejam. Jepang berusaha mengendalikan sumber daya insan serta sumber daya alam negara jajahannya Indonesia. Walaupun sikap Jepang terhadap umat Islam lebih lunak (ini dilihat dari kebijaksanaan-kebijaksanaan Jepang) dari Belanda, tetapi di balik semua itu tersembunyi maksud untuk luar biasa simpati umat Islam supaya mendukung serta menolong kepentingan perang Jepang, alasannya Jepang menyadari melewati agama bisa mensugesti masyarakat.
Untuk mempercepat usaha Jepang tersebut segala tutorial ditempuh dalam segala sisi kehidupan. Salah satunya dengan merubah sistem pendidikan. Oleh alasannya itu, Jepang menguasai kurikulum baru, yg berlaku dengan cara umum untuk semua sekolah. Dalam kurikulum ini bahasa Indonesia menjadi pelajaran utama, bahasa Jepang menjadi pelajaran wajib. Para pelajar wajib mendalami budaya istiadat Jepang, taiso, melagukan lagu Jepang, melakukan penghormatan (selkerei) ke arah istana kaisar Tokyo. Guru-guru juga wajib dilatih supaya bisa melaksanakan tugas-tugas yg dibebankan Jepang. Selain itu, diberi pelajaran mengenai dasar-dasar pertahanan serta kemiliteran. Dualisme pendidikan pada masa Belanda dihapus serta diganti dengan sekolah dengan cara umum. Kelak kebijakan ini sangat menguntungkan Indonesia diantaranya dalam penyeragaman kurikulum, bangsa Indonesia tak lagi mengalami diskriminasi pendidikan.

0 Response to "Pendidikan zaman Jepang dan Pendidikan Islam dalam Masa Penjajah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel